Jl. Cempaka Putih Barat, DKI Jakarta 085331383980 hikmahbudhi@gmail.com
News

HIKMAHBUDHI 55 Tahun, Atta Dipa Bhava; Kalyanamitta dan Tantangan, level Up.

Himpunan Mahasiswa Buddhis Indonesia (HIKMAHBUDHI) kini telah berusia 55 tahun, bukan sekadar perjalanan usia sebuah organisasi, melainkan jejak panjang pengabdian, persahabatan, dan pembentukan karakter Mahasiswa Buddhis Indonesia. Dalam rentang waktu lebih dari setengah abad, himpunan ini telah menjadi ruang belajar bersama, tempat bertumbuhnya gagasan, serta rumah kebersamaan bagi mahasiswa Buddha dari berbagai latar belakang, tradisi, dan cara pandang.

Di tengah dunia yang semakin cepat berubah, tantangan yang dihadapi mahasiswa tidak lagi sederhana. Perkembangan teknologi, arus informasi yang tidak terbendung, hingga menguatnya sikap individualisme sering kali menjauhkan manusia dari nilai-nilai kebijaksanaan dan welas asih. Dalam situasi seperti ini, kehadiran organisasi mahasiswa Buddhis menjadi sangat penting sebagai titik temu yang mempersatukan, bukan memecah belah; yang merangkul, bukan menghakimi.

 

Kalyanamitta

Himpunan Mahasiswa Buddhis Indonesia (HIKMAHBUDHI) akan terus menjadi wadah lahirnya sumber daya manusia Buddhis yang beradab, berintegritas, dan menjunjung tinggi nilai-nilai luhur ajaran Buddha. Nilai mettā (cinta kasih), karuṇā (welas asih), muditā (simpati atas kebahagiaan orang lain), dan upekkhā (keseimbangan batin) tidak hanya menjadi ajaran yang dihafalkan, tetapi juga dihidupi dalam kehidupan organisasi maupun kehidupan sehari-hari.

Lebih dari itu, organisasi ini perlu tetap menjadi rumah bersama yang mampu menjaga semangat saling menghargai perbedaan dan cara menghargai. Perbedaan pemikiran seharusnya tidak menjadi alasan untuk terpecah, melainkan menjadi kekuatan untuk saling melengkapi. Dalam keberagaman itulah, kedewasaan dan kebijaksanaan diuji. Organisasi yang sehat bukanlah organisasi tanpa perbedaan, melainkan organisasi yang mampu merawat persaudaraan di tengah perbedaan.

Kolaborasi dan kebersamaan menjadi kunci penting agar organisasi ini terus bergerak ke arah yang lebih baik. Tidak ada kemajuan yang dapat dibangun sendiri. Semua kader, senior, dan alumni memiliki tanggung jawab moral yang sama untuk saling bahu membahu membangun Himpunan Mahasiswa Buddhis Indonesia agar mampu naik level dan semakin relevan di tengah perkembangan zaman. Pengalaman para senior dan alumni menjadi sumber kebijaksanaan, sementara semangat kader menjadi energi perubahan. Ketika keduanya berjalan bersama, organisasi akan memiliki fondasi yang kuat untuk berkembang.

Semangat kebersamaan dan kekeluargaan yang telah diwariskan oleh para pendahulu juga menjadi nilai penting yang harus terus dijaga. Sebab organisasi bukan hanya tempat berproses secara intelektual, tetapi juga ruang untuk belajar menjadi manusia yang rendah hati, peduli, dan mampu berjalan bersama. Ketika rasa itu tumbuh, maka setiap kader akan memandang organisasi bukan sebagai arena kepentingan pribadi, melainkan sebagai ladang pengabdian.

Dalam ajaran Buddha dikenal konsep kalyāṇamitta, yaitu persahabatan luhur yang saling menuntun pada kebaikan dan kebijaksanaan. Nilai inilah yang seharusnya terus hidup dalam tubuh Himpunan Mahasiswa Buddha Indonesia. Yang tidak dibangun atas kepentingan sesaat, melainkan atas niat tulus persahabatan untuk bertumbuh bersama, saling menguatkan, dan menjaga satu sama lain agar tetap berada di jalan Dhamma.

 

Tantangan, Level Up.

Kader-kader Himpunan Mahasiswa Buddhis Indonesia dituntut untuk mampu menjawab tantangan zaman dengan sikap terbuka terhadap perubahan tanpa kehilangan jati diri. Adaptasi menjadi kebutuhan, sedangkan transformasi menjadi keharusan. Mahasiswa Buddhis harus mampu hadir sebagai insan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara moral dan spiritual. Sebab kemajuan zaman tanpa karakter yang kuat hanya akan melahirkan mahasiswa yang kehilangan arah.

Tantangan terbesar organisasi mahasiswa saat ini bukan hanya persoalan reMahasiswa, tetapi juga bagaimana menjaga relevansi di tengah perubahan sosial yang sangat cepat. Dunia digital telah mengubah cara mahasiswa muda berpikir, berinteraksi, dan bergerak. Arus informasi yang masif sering kali melahirkan polarisasi, budaya instan, hingga melemahnya ruang dialog yang sehat. Kader-kader Himpunan Mahasiswa Buddha Indonesia dituntut untuk tidak sekadar aktif berorganisasi, tetapi juga mampu menjadi mahasiswa yang adaptif, kritis, dan memiliki ketahanan moral.

Menaikkan level organisasi berarti berani bertransformasi tanpa meninggalkan nilai-nilai dasar ajaran Buddha. Organisasi tidak cukup hanya bergerak dalam pola-pola lama yang bersifat seremonial, tetapi perlu memperkuat kapasitas kader di bidang kepemimpinan, intelektualitas, teknologi, advokasi sosial, dan pengabdian kepada masyarakat. Kader Buddhis masa kini harus mampu hadir sebagai pemecah masalah di tengah masyarakat, bukan hanya menjadi penonton perubahan.

55 tahun hari lahir Himpunan Mahasiswa Buddhis Indonesia bukan sekadar perjalanan usia sebuah organisasi, melainkan jejak panjang pengabdian, persahabatan, dan pembentukan karakter mahasiswa muda Buddhis Indonesia. Memasuki usia ke-55 tahun, Himpunan Mahasiswa Buddhis Indonesia mengusung tema “Atta Dipa Bhava, Menjadi Pelita Bangsa”. Tema ini menjadi pengingat bahwa setiap kader Buddhis harus mampu menjadi cahaya bagi dirinya sendiri, sekaligus menghadirkan manfaat dan penerangan bagi masyarakat, bangsa, dan lingkungan sekitar.

Semoga perjalanan panjang ini terus melahirkan mahasiswa Buddha yang bijaksana dalam berpikir, santun dalam bertindak, dan kuat dalam menjaga persaudaraan. Karena pada akhirnya, kekuatan sebuah organisasi bukan hanya terletak pada besarnya nama, tetapi pada kemampuan menjaga nilai-nilai kebaikan dalam setiap langkah pengabdiannya.

 

Penulis; Dwi Purnomo – Sekretaris Jendral PP HIKMAHBUDHI 2024-2026

Tinggalkan Balasan