Jl. Cempaka Putih Barat, DKI Jakarta 085331383980 hikmahbudhi@gmail.com
Opini

Mora Jataka (sang burung merak emas)

Mora Jataka

(Khuddakan Nikaya, Khuddakapatha, Jataka 159)

Sila (Moralitas)

 

Dahulu kala, di kerjaan Benares Bodhisatta terlahir sebagai seekor merak emas yang cantik. Sang merak emas melewati tiga baris perbukitan, dan pada perbukita ke empat dia berdiam yaitu sebuah dataran tinggi bukit emas di Gunung Dandaka. Ketika matahari mulai terbit, ia bertengger di pohon dengan memandangi terbitnya matahari, serta melafalkan mantra perlindungan dan memuja Kebajikan para Buddha yang telah ada. tujuannya untuk melindungi dirinya agar selamat di lahan makanannya sendiri. Setelah seharian penuh melakukan aktivitas, merak emas kembali bertengger di pohon memandangi terbenamnya matahari dan melafalkan mantra perlindungan, tujuannya agar terhindar dari hal-hal yang buruk atau jahat.

Kala itu di desa dekat Benares tinggal seorang pemburu jahat. Dia mengembara di sekitar Gunung Himalaya, dan melihat burung merak emas dan bergegas kembali memberitahukan kepada putranya. Secara kebetulan, istri Raja Benares bernama Ratu Khema bermimpi bahwa ada seekor merak emas yang sedang mengajarkan Dhamma.

Ratu Khema ingin mendengarkan Dhamma dari merak emas tersebut. Raja memanggil para pemburu dan memberitahukan para pemburu untuk menangkap burung merak emas tersebut dalam keadaan hidup-hidup. Pemburu memulai memasang perangkap di lahan makanan sang merak emas. Tetapi bahkan ketika sang merak emas berpijak di perangkap itu, perangkapnya tidak mampu menutup.

Pemburu ini mencoba selama tujuh tahun lamanya, akan tetapi tidak berhasil dan pemburu meninggal dunia dalam pencarian sang merak emas. Ratu Khema pun meninggal sebelum mendengarkan wejangan dari sang merak emas Raja sangat marah, kemudian memerintahkan agar sebuah pesan ditulis papan emas,:

“Di antara pegunungan Himalaya terdapat sebuah bukit emas di Gunung Dandaka, di sana hidup seekor burung merak emas, dan barang siapa yang memakan dagingnya akan menjadi awet muda dan abadi.” Pesan ini diletakkan dalam sebuah peti. Setelah raja meninggal, raja berikutnya membaca pesan tersebut dan berpikir bahwa dia menginginkan awet muda dan abadi, makai a memerintahkanpara pemburu untuk menangkap merak emas tersebut namun gagal, hingga meninggal ketika dalam masa pemburuan. Dengan cara yang sama, Kerajaan tersebut mengalami kejadian yang sama oleh enam raja-raja penerusnya.

Raja ketujuh pun muncul, dia juga mengirim pemburu, Sang pemburu mengamati sang merak emas ketika datang ke perangkap. Pemburu melaporkan kejadian tersebut kepada raja. Sang pemburu memiliki cara untuk menangkap merak emas, ia menggunakan umpan merak betina yang telah dilatih oleh sang pemburu. Pemburu memasang perangkap dengan benar beserta dengan merak betina.

Pada saat sang merak emas akan keluar mencari makan dan membaca mantra perlindungan, pemburu membuat merak betina bersuara, sehingga menimbulkan Hasrat dalam hati sang merak emas yang membuat sang merak emas lupa membacakan mantra perlindungan dan menghampiri merak betina dan akhirnya sang merak emas masuk dalam perangkap. Sang pemburu membawanya ke hadapan Raja.

Raja sangat senang akan keindahan sang merak emas. Sang merak emas bertanya kepada raja, “paduka, mengapa engkau menangkapku?”

Karena mereka berkata bahwa orang yang akan memakan dagingmu akan menjadi awet muda dan abadi, maka aku berharap awet muda dengan memakan dagingmu,” kata raja.

“Jika ingin awet muda muda dan abadi harus memakan dagingku, maka saya harus mati, jika saya mati, bagaimana bisa dagingku memberikan keabadianbagi yang memakannya?!,”balas sang merak emas.

‘Tentu saja engkau harus mati, karena warnamu emas, konon dagingmu membuat awet muda dan abadi,” jawab raja.

Tinggalkan Balasan